Dhien
Untuk Calon Imamku
Yang tidak aku ketahui siapa dan dimana dirimu sekarang.
Aku tidak meminta Tuhan untuk mempertemukan kita dengan cepat atau lambat karena aku tahu bahwa Allah pasti punya rencana yang lebih baik dari perkiraan kita.

Maafkan aku yang masih belum memiliki bekal banyak untuk menjadi pendampingmu.
Sekarang yang bisa aku lakukan adalah menimba ilmu dan memperbaiki budi pekertiku.
Ilmu yang akan aku ajarkan pada anak-anak kita kelak. Mencerdaskan mereka dengan membantu membedakan mana yang hak dan mana yang batil.

Untuk calon imamku
Jika kelak aku telah menyempurnakan tulang rusukmu, maukah kau membimbingku untuk jadi lebih baik.
Jika aku melakukan kesalahan, kau boleh diam padaku
tapi kau tidak boleh berkata-kata kotor terhadapku.
Jika kita bertengkar, kau boleh marah padaku
tapi tidak boleh kau jadikan alasan untuk meninggalkan kewajibanmu sebagai seorang suami dan ayah.

Tahukah kau bahwa pertengkaran itulah yang akan menguatkan kita, selama pertengkaran itu kita hadapi dengan tetap saling menghormati. Bukan dengan merendahkan salah satu pihak.

Untuk calon imamku
Jika aku nanti mulai menua dan rapuh
maukah kau tetap di sampingku dan menjadi malaikat yang akan membantuku dalam segala urusanku.
Sebab engkaulah orang pertama yang aku percaya untuk mendampingiku dalam suka ataupun duka.
Demikian pula jika kau mulai rapuh dan menua. Aku akan di sampingmu dan tetap menjadi sandaranmu.
Seperti rasa haru yang selalu aku rasa tiap melihat sepasang kakek nenek bergandeng tangan dengan hangatnya.
Mungkinkah kita akan mencapai posisi seperti itu?

Untuk calon Imamku
Ijinkan aku mencintaimu dengan caraku.
Entah kau adalah orang yang aku cintai sekarang atau mungkin orang yang belum aku kenal.
Akan tetapi dimana pun kau sekarang, semoga engkau juga tengah mempersiapkan diri menjadi sosok yang berkarakter. Sebab kaulah calon ayah yang bertanggung jawab pertamakali dalam membentuk karakter anak-anakmu kelak.
Dalam diamku aku mengucap doa tulus agar kelak engkau pula lah yang menjadi jodohku di surga.
Bukan sekedar cinta atas nafsu belaka.
Tapi cinta tulus yang Allah ridhoi di jalannya.

Untuk calon imamku.
Andaikata kau menginginkan wanita tercantik di dunia
Orang itu bukan aku
Andaikata kau menginginkan wanita terkaya di dunia
Orang itu bukan aku
Andaikata kau menginginkan wanita paling sempurna
Jelas, wanita itu bukanlah aku
Tetapi
Jika kau menginginkan wanita yang tulus mendampingimu sampai akhir hayat
Orang itu adalah aku
:')

#Sampai jumpa nanti calon imamku
Dhien
Ada sebuah perbincangan menarik yang membuat ku berfikir ulang tentang kodratku sebagai wanita :)

     "Eh nduk, besok kalau cari suami yang pinter yaa, biar keturunanmu juga pinter."

Aku hanya mengiyakan kata-kata tersebut dan membenarkan tanpa mengkaji lebih lanjut. Suatu hari di sebuah majelis aku menjadi moderator dari materi yang dibawakan oleh mbak Sherly dengan tema "Menjadi Muslimah Prestatif"

    Diskusi tentang muslimah berjalan cukup menarik, dan sebuah pertanyaan yang dilontarkan mbak Sherly sendiri membuat penasaran.
"Menjadi wanita menuntut ilmu tinggi tapi ujung-ujungnya diminta suami tidak bekerja dan mengurus anak di rumah. Lalu apa gunanya ilmu yang kita kejar selama ini?"
    Wow....,
    Pertanyaan yang menantang, tapi mbak Sherly menjawab pertanyaannya dengan bijak. Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi seorang muslim baik laki-laki maupun perempuan. Tidak ada satupun ilmu di dunia ini yang sia-sia, Ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Lalu kenapa wanita harus tetap belajar meski ia tidak bekerja nantinya?
    Karena wanita dalah calon ibu dan ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Jika kita sebagai wanita tidak cerdas bagaimana kita akan mencerdaskan anak-anak kita nantinya :)
Jika kita tidak mau belajar bagaimana mungkin kita mampu mengajari anak-anak kita dengan baik.
Banyak artikel yang menjelaskan bahwa kecerdasan itu diturunkan dari ibu bukan ayah. Sedangkan peringai / perilaku itu banyak dipengaruhi oleh ayah. Meski lingkungan dan nutrisi, juga sangat mempengaruhi perkembangan anak itu sendiri.

    "Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq", ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. 

Jadi bukankah wajar jika wanita adalah tiang sebuah negara. Sebab wanitalah yang pertama kali bertanggung jawab mencerdaskan generasi berikutnya. Sebab wanitalah yang pertama kali mendidik dan membantu anak-anaknya membedakan mana yang haq dan mana yang batil.
    Lalu bagaimana dengan Ayah?
    Ia lah yang akan membentuk perilaku anak-anaknya. Ayah adalah orang yang pertama bertanggung jawab membentuk karakter diri anaknya. Jadi apakah kalian para lelaki sudah mampu bertanggung jawab dan menyiapkan diri kalian menjadi ayah yang berkarakter?



     Kesimpulannya adalah, daripada aku sibuk menunggu dan mencari laki-laki yang pintar, lebih baik jika aku mencerdaskan diriku sendiri sekarang. Menyuplai ilmu ke dalam diri yang masih belum ada apa-apanya ini. Cerdas tidak dilihat dari seberapa banyak nilai 9 di rapor mu, bukan seberapa tinggi nilai IP mu, tapi cerdas itu seberapa banyak aset ilmu yang kamu miliki dan bisa kamu realisasikan di kehidupan nyata.
 
    Lalu Apa kita masih merasa rendah sebagai wanita? Wanita itu spesial, ia bisa bekerja 18 jam sehari, mengurus anak-anaknya dalam waktu yang bersamaan, kedua tangan kita punya kekuatan menyembuhkan sakit di hati, wajah kita mempesona kaum lelaki, air mata kita adalah ekspresi bahagia, sedih dan galau, walau tampak rapuh tapi kita bisa menyimpan segala duka sendiri agar tidak menyulitkan orang lain. Tentunya kita juga yang akan membesarkan anak-anak kita, mengajari mereka mengaji, membaca buku, dan menulis. Hanya saja wanita punya kelemahan yang besar yaitu kita lupa betapa berharga nya diri kita :')
     Jadi marilah kita tuntut ilmu sebanyak-banyaknya, jangan malas belajar, tidak ada ilmu yang sia-sia, karena aku, kamu, kita adalah wanita hebat yang akan membangun kekuatan generasi selanjutnya. 
Dan untuk calon anak-anakku kelak, semoga ilmu yang aku cari sekarang akan berguna untuk kalian nantinya.

   :')
    Ya Allah yang Maha Memiliki segala sesuatu, Yang Maha Mengusai semua Ilmu, bimbinglah kami untuk istiqomah di jalan mu, dan berikanlah kami ilmu yang bermanfaat.
Amiin ya rabbal'alamin


Dhien
     Alhamdulillah liburan kali ini banyak sekali pelajaran yang bisa aku bawa pulang ke kampung halaman :')
dan syukur ya Allah, nilai IP semester ini bisa dibawa pulang untuk hadiah ulang tahun bapak dan ibu.

      Banyak sekali keraguan yang aku alami soal akademis kuliahku. Masih jelas di setiap koridor ingatan ku, selama semester satu dan dua aku hampir tidak pernah belajar. Kalau pun belajar pasti menjelang ujian atau ulangan. Alhasil IP yg didapat ya segitu-gitu aja, harus puas dengan ip 3,33. Apalagi menjadi mahasiswa baru di perantauan membuatku sangat terkoyak. Kultur budaya surabaya yang jauh berbeda dengan kultur keseharian yang aku bawa dari jawa tengah cukup membuat pening kepala. Aku harus menahan telinga dengan cacian kotor selama pengkaderan *semacam ospek jurusan*, aku juga harus membiasakan diri bergaul dengan teman-teman dari jawa timur yang terbiasa mengucap kata-kata penuh sensor ****** bla bla bla, dan aku harus mandiri jauh dari orang tua.

    Sumpah sebenarnya aku nggak kuat, kuping panas, sakit hati saat dicaci, bahkan niat untuk ikut SNMPTN lagi muncul. Maka dari itu pelampiasannya aku malas belajar. Nilai sekedar dapat nilai ya sudah yang penting nggak ada mata kuliah yang ngulang. Akan tetapi semester ini berbeda, banyak sekali cambukan dan teguran Allah untuk aku pahami. Salah satunya ketika aku digoyahkan menjadi staff FUSI Ulul Albab yaitu lembaga dakwah jurusan teknik fisika ITS.
   Dari sebuah poster opreq LDJ ada sebuah ayat yang tepampang di tengahnya.
 
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)

   Sempat ragu untuk mendaftar akan tetapi janji Allah pada surat Muhammad ayat 7 ini menggetarkan pondasi hatiku. Aku pikir ulang, LDJ ku sepi, tidak ada yang berminat, lalu siapa yang akan menjadi penerus nantinya? Ditambah lagi sebuah status FB seorang kawan :

Jika ada 1000 orang yang berjuang di jalan Allah,
maka satu diantaranya adalah aku.
Jika ada 100 orang yang berjuang di jalan Allah,
maka satu diantaranya adalah aku.
Jika ada 10 orang yang berjuang di jalan Allah,
maka satu diantaranya adalah aku.
Jika ada 1 orang yang berjuang di jalan Allah,
maka orang itu adalah aku.
Jika tidak ada lagi orang yang berjuang di jalan Allah,
maka aku telah syahid.
(Asy-Syahid Hasan Al Banna)


    Lalu apa yang bisa aku perbuat untuk agamaku? aku masih termasuk awam, ilmu agama masih pas-pasan, jilbaban juga masih new comers, tapi aku mau belajar bukan cuma gaya-gayaan.  Aku niatkan semua karena Allah, yang jelas urusan akademis aku sudah berusaha dan belajar, selebihnya Allah lah yang akan membantuku.

   Hidup di asrama mahasiswi yang setiap hari pukul setengah 5 sampai jam 6 pagi selalu ngaji dan majelis dzikir. Awalnya kegiatan ini membuat ku takut bisa mengurangi jatah belajarku. Tapi dipikir-pikir lagi aku punya 24 jam sehari, jika kusisakan waktuku untuk 1,5 jam ngaji pagi dan 1 jam majelis malam nggak ada salahnya.


   Banyak sekali kegiatan yang aku jalani menjelang dan selama UAS. Banyak ketakutan melihat nilai akademikku pas -pasan semester lalu. Akan tetapi semua kegiatan ini aku niatkan pada Allah, selama aku berusaha tetap belajar. Meski jam belajar terpotong dengan ngaji, majelis dzikir, Fusi UA dll tapi aku percaya janji ALLAH bahwa ia akan menolongku dan meneguhkan kedudukanku dibalik semua usahaku menolong agama-Nya dan membanggakan orang tua.
Subhanallah...., hasil IP tidak terduga 3,79 di depan mata. Sekarang aku bisa mengambil hikmahnya, bahwa janji Allah itu benar, Ia akan menolong kita jika kita niatkan segala sesuatunya hanya kepada-Nya. Tawakal setelah berusaha. Gag cuma ngaji doang tapi gag pernah belajar atau belajar doang gag pernah ngaji. semua harus seimbang dan ada porsinya.

Percay
a deh Allah akan membantu hamba-Nya yang berjuang menolong agama Allah.
^__^
Dhien
Mencium bau rusuh di atap kamar kos. Entah kucing atau tikus yang bercengkrama merobek sunyi. LELAH. Perut dan pikiran tidak bisa diajak kompromi, pening meremas otot-otot kepala. Andaikata selera hati sedang tidak seburuk ini mungkin pertengkaran tidak akan terjadi.

Sekilas aku ingat sebuah kata-kata menarik yang terlontar kepadaku dari seorang teman sebelum pertengkaran ini.
"Dewasa itu pilihan tapi Geje itu cuma sekali."
*Geje= gag jelas

Tanpa banyak berpikir aku hanya mengangguk mengiyakan ucapannya. Akan tetapi sepanjang perjalanan pulang aku berpikir ulang tentang arti kedewasaan. Menurutku "Dewasa itu cuma sekali dan geje itu pilihan."
Kamu bisa menjadi dewasa jika kamu mau, kapanpun juga, tapi menjadi geje juga bisa kamu lakukan kapanpun juga meski kamu telah dewasa. Aku bukan orang yang menggurui arti sebuah kedewasaan kepada kalian. Aku hanya ingin berbagi bahwa aku sendiri sedang dalam proses menuju dewasa dengan segala keterbatasan dan emosiku. Yang aku tahu aku mengizinkan diriku untuk mendewasakan diri meski sulit, aku tetap bisa geje, bertingkah aneh tanpa mengurangi langkahku untuk dewasa. Asalkan ke-geje-an ku tidak mengganggu orang lain.
19 tahun usia yang seharusnya aku bisa lebih bijak menyikapi perselisihan justru ku habiskan dengan banyak hal yang kurang bermanfaat. 19 tahun usia yang cukup untuk aku lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri. Tidak boleh egois, tidak boleh menomersatukan kesenangan pribadi, harus lebih perhatian sama orang lain :)

Sometimes....
Dewasa itu seperti ilalang, yang tak pernah berbohong pada angin. Jika angin berlari ke timur maka ia juga akan menoleh ke timur. Ibaratnya ketika keadaan membuat hati kita terluka atau bahagia maka yang kita ekspresikan juga sama. Karena menurutku dewasa itu bukan sok-sokan kuat ketika kamu terpuruk, bukan sok-sokan bahagia saat kamu sedih. Tapi dewasa itu mengakui keadaan kita apapun itu dan menghadapinya sampai selesai :)

Dewasa itu seperti ilalang, yang tidak pernah mengeluh pada angin meski angin selalu membuatnya goyah. Maka aku belajar dari ilalang untuk tidak banyak mengeluh pada hidup, tidak boleh banyak meminta jika tidak banyak memberi. Saat masalah dan kekecewaan membuat ku terluka, Segera aku harus menguatkan hati agar tidak jatuh. Dan yang penting, tanganku harus lebih banyak berbuat daripada mulutku :'D #semangat


Dewasa itu seperti ilalang, yang tumbuh meninggi walau batangnya tidak berkayu. Seperti kita yang harus terus hidup dan menghadapi masa depan. Meski kita banyak mendapat persoalan yang mengusik tapi bukan berarti kita mudah rapuh menghadapi masalah. Tahukah kalian bahwa kita lebih kuat yang kita pikirkan. =")

Kesimpulannya bukan ilalang yang akan mendewasakan kita, tapi diri kita sendiri lah yang mengizinkan kapan kita akan mengambil langkah menuju kedewasaan. Ingat yaaa, menjadi dewasa bukan berarti kita tidak boleh bersikap seperti anak kecil. Kadang kita boleh bersikap geje untuk merasakan bahagianya menjadi bebas tanpa beban asal caranya tidak dengan tertawa di atas kesedihan orang lain.




Dhien
Ngah-ngoh -___-" itu keadaan awal saat pertama dateng ke surabaya.
Zzzzttt....... brasa kaya cacing kepanasan adaptasi di sini
Dari Klaten yang adem-adem gimanaaa gitu, eht sampe di surabaya kayak di gulung ke wajan masak. Udah panas, macet, dan sumpek.
heheheeee, tapi ada yang seru nih hidup jadi mahasiswa dan merasakan kos untuk pertama kalinya.
Menetap di keputih gang 3 no 52 Sukolilo surabaya, sekarang aku hidup sama berandal-berandal kos yang kedoknya anak alim pesantre nih :p #termasuk-aku
Kos yang sekarang aku tempati merupakan asarama mahasiswi As-Shulha yang dikelola oleh Bu alif dan suaminya. Kegiatannya seh rutin majelis dzikir tiap habis subuh dan kajian malam dari jam 7 sampai jam 8.
Tapiiiiii. . . . . ,
dari semua anak-anak kos mungkin blok kos kamar bawah lah yang paling mbabet buat ikut. Maklum lah, orang sibuk (atau sok menyibukan diri) atau malah kabur saat kajian? Waakaka :D
Geng blok kamar bawah inilah yang sangat erat jadi keluarga kedua di surabaya.
Tak kenalin satu-satu yaaa....

1. Riyani mujaroh putri (Matematika ITS-2011)


Arek siji iki ancene rodo sempel :p (hehehe piisss put). Tapi memang itu realitanya, orang yang supel, cerewet, mudah beradaptasi, dan doyan belanjaaaaaaa :D. Makanya kalo aku mau ke Mall atau ke pasar ngajak nih anak buat nganter. Pernah tuh cari diskonan rok ke Delta eht malah dapet 2 dus sepatu, trus pindah ke royal gag ada yang cocok lanjut pindah ke ITC, eht sampai ITC kok merasa bagusan yang di Delta balik lagi deh ke delta beli rok dan 2 dus sepatu lagi. Sumpah..., odong tenan, gag cuma bawa belanjaan seabrek tapi bawa pegel kaki juga. Pokoknya aku rekomendasikan kalian kalau mau belanja ajak nih orang xD betah wes kalau belanja. Meski agak koplak tapi yen dandan yo ayu kok, nih buktine.


    
Ciieee putriii :p


2. Chontry Novita Dewi (Teknik Mesin ITS - 2011)


Nah..., arek yang satu ini gag jauh koplake sama si putri. Maklum deh temen duet satu kamar sama putri ya sebelas-dua belas :) .  Mereka berdua ini duo bojonegoro yang sejak pertama jadi maba (mahasiswa baru) di sini selalu pamer kehebohan bojonegoro sambil nyanyi "Bojonegoro tempatku bermimpi, bojonegoro....," hahaha.... Si novi ini akrab dipanggil Conde singkatan dari nama panjangnya. Jangan salah ya broo.... meski anaknya koplak tapi semangat juang conde besar. Demi niatnya pada pengkaderan, dia janji gag akan pulang kampung sebelum diangkat jadi warga. "Untung yo con.. pengkaderanmu mung 4 bulan, bayangno yen nganti suweee koyo Teknik Kimia! Setaun luwehh gag pulkam awakmu. Jamuren dewe neng kos hehehe."


3. Murja Ningsih (Teknik Sistem Perkapalan ITS -2011)


Cihuuiiii....., ini nih juaranya Mbak Murjaningsih :D . temen sekamarku yang sama-sama berasal dari Klaten meski beda SMA. Orang satu ini paling laris diapeli cowok ke kos, meski ujung-ujungnya lebih banyak aku yang kena semprot ibu kos daripada dia -___- #hhhlllrr.
Jangan salah meski badannya kecil tapi banyak cowok yang nyantol lohh. Paling ilfeel deh kalo nih orang udah ditelpon bolak-balik sama cowok-cowok -__- jam tenang ku terganggu, Tapi bagaimanapun juga dia ini soulmate sejak pertama aku hidup di surabaya :* ma'acih cintaa #weekkk

4. Susi yanuarsih (Matematika ITS 2011)


Subhanallah..., ini dia ukhti di blok kamar bawah 3/52 :) Ukhti susi namanya. Miss galau ini selalu ngaku kalo dia gag galau padahal yaa kalau lagi digojloki arek2 pasti udah rewel. maklum deh anak bungsu di sini :) . Aku lebih nyaman manggil dia dengan panggilan teteh meski umurnya lebih muda daripada aku soalnya di kos ini ada juga yang namanya mbak sustia jadi kalau manggil "Sus...!" baik mbak sustia ataupun susi nengok semua deh. Eitz, tunggu dulu... walaupun muda, galauers, tapi otaknya paling cemerlang di antara kita semua. Juara Olimpiade matematika dimana-mana tuh orang huussshh sangarr.... semangat ya teteh buat cita-citanya menuju jepang :D #GANBATE


5. Rara

Haayyyooo coba tebak siapa gambar di atas tuh :D
itu dia anaknya ibu kos yang nomer 3 namanya rara. Dia ini bahan gojlokan arek-arek kalau di kos. "Ckckckck, kasian kamu nak selalu didzalimi" pokoknya yaaa kalau rara lewat ruang TV kos dan dia nangis pasti deh ulahnya sie Conde -___- #Dasar gimana besok kamu con kalo udah jadi emak-emak. Maafkan mbak-mbak mu ini ya ra karena sering mendzalimi dan ngusilin kamu :p hahaha

Mereka itu lah keluarga pertama yang kau kenal di Kos 3/52 . banyak suka duka yang udah kita rasain bareng mulai dari bonceng motor bertiga, makan dengan nasi bubur buatan teteh plus sambel pecel ibu nya putri, atau sahur dengan nasi seupil-upil lauknya telur rebus dibagi-bagi berempat sampai geje-gejean di Mall belanja sambil nyobain barang dan poto-poto. Ingatkah kalian dengan itu semua?
Semoga Allah selalu menyertai perjalanan kita menempuh pendidikan di sini dan tetap mengikat erat tali persaudaraan kita :)
aamiinn ya rabbal'alamin



Dhien
Huuuaawww >.<
Gag krasa yaa udah ganti tahun
Alhamdulillah resolusi 2012 banyak yang telah berhasil meski ada juga yang belum kesampean :)
Tahun baru kali ini ada yang beda :)
baru tahun ini aku bisa merayakan tahun baru keluar rumah bareng-bareng sama temen
ramae-rame keliling taman bungkul surabaya di temenin Ria, Mas vingky, Elfa, Alfani, sama kakak juga :D
Tahun baru semenjak masuk kuliah selalu disambut dengan ujian akhir semester yang membludak.
Hari jumat tgl 4 Januari 2013 langsung disodori 3 UAS dari fisgel entah itu fisika gelombang atau fisika gelap -___-
habis itu ada juga PIL "Pengantar Ilmu Lingkungan"
lanjut siangnya jam 1 Garmen "Menggambar Instrument"
zzzztttttt" >.<
semangattttt..........!!!
kali ini resolusi 2013 menunggu.
Bismillahirrahmannirrahim :)
Semoga Allah memberi kemudahan untuk mewujudkannya.
Amiin...
Dhien
Hari ini mau berbagi cerita. Sedikit tentang betapa orang tua kita begitu mencintai anak-anaknya. Hal sepele memang, tapi kita sering lupa bagaimana cara mencintai mereka dengan indah.
Di sebuah pelatihan dasar mahasiswa pertengahan tahun ini, seorang pemandu pelatihan memutar video tentang cinta ayah terhadap anaknya. Sudah 2 bulan aku tidak bertemu ayah, tentu saja melihat video macam itu air mata menetes deras. Membawa kenangan berlayar kembali ke peristiwa 2 tahun lalu.


Pagi buta, awal September 2010
       Hari ini tidak sama seperti hari-hari sebelumnya. Rutinitas bangun tidur, mandi, sarapan, dan berangkat sekolah kali ini berganti dengan persiapan mental. Masih sangat jelas di memoriku terakhir kali aku disuntik karena sakit parah sepulang dari Jakarta. Sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu. Dan hari ini aku dipaksa Ayah dan Ibu untuk cek golongan darah di PMI pusat. Memang kata sebagian orang, cek golongan darah itu hanya seperti digigit semut dan hanya butuh 30 detik untuk melupakan rasa sakitnya. Siang ini rencananya aku akan ke kantor polisi sektor Klaten untuk mencari SIM C. Menginjak usiaku yang ke 17 tahun Ayah menjanjikan agar aku segera memperoleh surat izin mengemudi, mengingat aku sering kali kena tilang sepulang sekolah. Berhubung sampai usia 17 tahun kami sekeluarga belum yakin golongan darahku akhirnya sekalian deh mampir ke PMI pusat untuk cek darah.
        Dengan surat izin palsu ke sekolah untuk pertama kalinya aku mbolos atas izin orang tua. pukul 8 pagi suara gerang motor Ayah sudah siap di halaman rumah untuk beranjak ke kantor PMI pusat. Sesampainya di sana, Ayah mengajakku pergi menuju ruang pendaftaran. tidak perlu menunggu banyak waktu aku dipanggil untuk cek golongan darah. Hanya butuh 3 menit dan hasilnya keluar. Kata bu dokter "Golongannya A reshus positif"
       Jlebb..... berasa ketimpa belati dari atas. Ayah yang duduk disampingkku tercengang. mungkin dalam benaknya "Bagaimana bisa anakku bergolong darah A"
       Melihat raut wajah ayah yang pasi terselip rasa takut di sela-sela garis keriputnya. Berharap ada kesalah dalam pengetesan golongan darah tadi. Akhirnya Ayah mulai memecah tanya diantara kita.
       "Kok bisa A bu dokter? Saya dan istri golongan darahnya sama-sama O" tanya ayah dengan wajah cemas.
       "Ya saya tidak tahu pak, tapi kalau keduanya O tidak mungkin anakknya punya golongan darah A" jawab bu dokter dengan wajah innocent.
       Sesaat kurasakan genangan air mata berkumpul di kelopak mata bawah. Rasanya ingin menangis, marah, tidak terima, kecewa, akan tetapi aku harus marah pada siapa? Toh pada kenyataannya aku tidak paham siapa yang salah dalam hal ini. Yang aku tahu aku sudah terlahir dengan keadaan yang seperti ini, dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Aku tidak berhak menyalahkan campur tangan Tuhan dalam penciptaanku. Tidak berhak pula menyalahkan kedua orang tua yang sudah susah payah membesarkan aku. Bahkan aku tidak punya hak menyalahkan Bu dokter maupun semua yang berkaitan dengan pengecekan golingan darah ini.
      Aku dan Ayah pergi meninggalkan ruang pemeriksaan dengan raut pasi penuh rasa curiga. Sampai di tempat parkir PMI ayah bertemu seoarang kawan lama yang sekarang bekerja di PMI.
      "Loh Pak, ada apa kok di sini ?" tanya kawan Ayah sembari menjabat tangan.
      "Ini ngecek golongan darah anak. Kok golongan darah anak saya A ya? Padahal saya sama istri O?" tanya Ayah sedikit ragu.
      "Wah ya gag bisa itu, gag mungkin pak, kemungkinannya yang salah dari istri sampean atau dari rumah sakit"
      Jawaban yang ringan tapi menusuk di hati. Jelas saja aku perlu menambah tenaga untuk menahan air mata. Siapa orang yang tidak akan sakit hati bila dikatakan seperti itu di hadapan ayah nya sendiri. Sudahlah, aku cukup berpura-pura innocent, tidak tahu apa-apa, dan cuek. Selentingan kata-kata tajam tadi biarlah jadi angin lalu.
     Selanjutnya aku menuju kantor polsek Klaten untuk melakukan tes SIM C. di ruang tes kepalaku ini rasanya berat, tidak bisa konsentrasi, dan perkara di PMI tadi masih berkutan di otakku dengan kuat. Aaarrgghh, enyahlah pikiran buruk ini.
     Untuk lolos ke tahap selanjutnya aku harus bisa menjawab soal teory minimal 21 soal. Namun dengan kondisi seperti ini aku hanya bisa menjawab benar 14 soal saja.
     GAGAL!
     Ujian SIM C pertama gagal dan kepala semakin berat. seribu tanya mengitari sudut-sudut memoriku. Mencoba menemukan probabilitas bahwa aku masih anak mereka. Semakin aku berfikir semakin jauh aku dari kebenaran. Walaupun pada akhirnya Ayah bisa mengusahakan agar aku bisa mendapat SIM C, hal itu tidak membuatku merasa senang. Masih saja, yang di garda depan otakku saat ini hanya satu pertanyaan. "Anak siapa aku?"
     Dengan perasaan kalut aku dan ayah pulang ke rumah dan menceritakan kejadian tadi pagi di PMI kepada Ibu. Sambil menampakkan muka sembab aku bertanya pada Ibu,
     "Aku anaknya siapa?"
     Seperti biasa, sekalipun Ibu suka marah-marah, tapi hanya beliaulah yang paling mengerti caranya membuat aku tenang.
     "Kamu loh, mirip sama Ayah sama Ibu, apapun hasilnya kamu tetep anak ibu, bukan anak temuan."

     Tahukah kalian bahwa banyak pikiran konyol datang pasca kejadian di PMI. Sempat aku mencurahkan rasa sedihku kepada salah satu sahabat karib. Sumpah konyol banget, kita sempat berencana ke rumah sakit tempat aku dilahirkan dan mencari orang-orang yang juga melahirkan anaknya pada hari yang sama denganku. Bahkan ada ide buat ikut salah satu acara realiti show yang mencari orang hilang semacam "Termewek-mewek". Tapi semua akhirnya diurungkan, karena aku akhirnya memilih ikhlas untuk melupakan masalah golongan darah. Kata sahabatku "Orang tua mu adalah mereka yang membesarkanmu dengan penuh kasih sayang, bukan hanya Ibu yang melahirkanmu."
      Ku simpulkan bahwa merekalah orang tua ku. Tak peduli apa golongan darahku dan apa golongan darah mereka. Bagi mereka aku adalah anaknya dan bagiku mereka adalah orang tuaku.

                              ***

      Dua tahun berlalu, aku melanjutkan study ke Surabaya. Mengejar mimpi-mimpi lain dibalik deru berat hati meninggalkan Ayah dan Ibu di kampung halaman. Bahagianya bahwa di kampung halaman Ibu telah berhasil mewujudkan cita-citanya membuka warung soto. Dari warung soto inilah, Ibu lancar membiayai kuliahku di surabaya dan akhirnya Ayah serta Ibu bisa mendaftarkan diri sebagai calon jamaah haji :)
     Ketika ada waktu kosong 4 hari, aku menyempatkan diri pulang ke Klaten melepas rindu pada keluarga. Sepulang dari kota Ibu menceritakan kisahnya ketika mendaftar jadi calon jamaah haji.
     "Dek, waktu Ibu daftar haji kemarin, ada tes kesehatan dan cek golongan darah ternyata golongan darah Ibu A juga. Kayaknya dulu waktu tes pertama hasilnya salah. Sudah dicek ulang tetep A kok dek."
     Subhanallah.....,
     Ada siraman air membasuh kalbu. Seakan dunia lebih lebar dari biasanya. BAHAGIA. Sekarang tidak ada lagi rasa curiga dan bertanya-tanya dalam hati. Meski selama ini Ibu terutama Ayah ragu terhadap golongan darahku tapi mereka tetap mencitai dan mengasihi aku dengan sepenuh hati. Tanpa mempedulikan embel-embel golongan darahku.

     Dari kisah ini aku ingin berbagi kepada kalian semua bahwa "Di dunia ini tidak ada orang tua yang sempurna, tapi mereka selalu berusaha mencintai anak-anaknya dengan cara yang sempurna" walaupun terkadang mereka marah-marah, sibuk dengan pekerjaannya, lupa dengan keadaan kita, tapi percayalah mereka tetap mencintaimu dengan utuh tanpa meminta imbalan. Seperti itulah kasih sayang, ia tulus dan sederhana.
   

#With love <3
Untuk Bapak sama Mama di Klaten :*
Salam rindu
-Anakmu-